Pada Enam Lembar Kanvas Hendrix

By 18 Jan ’11Indonesian
if six was nine 5a

Pada Enam Lembar Kanvas, Hendrix …

“Waktu saya lebih muda, saya menyerap cara-cara itu. Saya menyimak dan berusaha menemukan seluruh cara yang indah itu, seperti Castle Made of Sand dan One Rainy Wish serta semua karya keren Hendrix yang sayangnya tak dikenal seperti halnya teknik gaung dan permainannya dengan gigi dan hal-hal itu.”

—Steve Vai via TEMPO (3-9 Mei 2010)

“Knowledge speaks, but wisdom listens […] Excuse me while I kiss the sky […] I’m the one that has to die when it’s time fot me to die, so let me live my life, the way I want to.”

—Jimi Hendrix, http://www.goodreads.com/quotes/ (diakses 15 Oktober 2010)

Puan dan Tuan Penatap yang Budiman.-

Pada enam lembar kanvas—dari delapan belas lembar kanvas—Nyoman Mantra yang dipajang di Sangkring Art Space, Yogyakarta, dalam pameran bertajuk “Organic Mind” ini, tergurat potret setengah badan Jimi Hendrix yang sohor di kolong langit ini sebagai—pinjam judul film Rhoma Irama—“Satria Bergitar” yang paling ciamik dan berpengaruh dalam sejarah musik rock dunia dan teknik gitar modern, sebagaimana tersurat dalam pengakuan Steve Vai di atas.

Misalkan kita penggemar Jimi Hendrix—sudah cukup meyakinkankah keterangan tersebut untuk kita mempertautkan diri dengan pentolan The Jimi Hendrix Experience kelahiran Seattle, Washington, 27 November 1942, itu?

[…]

Baiklah kita kenang kembali ia yang terlahir dengan nama Johnny Allen Hendrix itu dalam riwayat semenjana—terutama pada suatu hari di mana ia tengah menunggu waktu nan membeku dalam keputusasaan yang tak tepermanai, yang berujung pada kebisuan yang tak dapat dijelaskan.

18 September 1970. Kala fajar menyingsing pagi ini, superstar rock Jimi Hendrix menelpon mantan manajernya Chas Chandler dari flat pacarnya di Grove Ladbroke London. Tapi Chandler tak di rumah. Hendrix meninggalkan pesan di mesin penjawab Chandler: “Gue butuh bantuan genting.” Sayang, pertolongan tak datang—dan Hendrix diumumkan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit St Mary’s pada pukul 11:45 akibat overdosis obat tidur [Sumber yang lain menengarai penyebab kematian mendadaknya adalah overdosis heroin]. Ia “baru” berumur 27. Jimi Hendrix, seperti sudah disinggung sebelumnya, disebut-sebut sebagai gitaris paling handal yang pernah ada—jenius rock n’ roll dengan latarbelakang blues yang mumpuni plus penampilan panggung yang seksi-brutal. Ia  musisi yang paling dieluk-elukkan dalam Woodstuck Festival, sebuah pertunjukan musik dan pasar seni yang diriungi oleh sekira tiga ratus ribu anak muda untuk merayakan budaya hippie lewat penampilan musisi-musisi “pemberontak,” antara lain Joan Baez, Ravi Shankar, Janis Joplin [pada 4 Oktober 1970, satu bulan setelah Jimi Hendrix berkalang tanah, perempuan pelantun rock hits “Peace of My Heart,” ini tewas overdosis heroin di sebuah kamar hotel Hollywood dalam usia “baru” 27], The Who, dan Jefferson Airplane, yang digelar di Bethel, New York—dan bintang Isle of Wight Festival bulan lalu. Malangnya, ia tengah terbelit perkara hukum kontrak dan royalti, bertengkar dengan manajer, dan pusing dengan band yang bubar. Ia menyudahi tur yang kacau di Denmark empat hari lalu—meninggalkan panggung di tengah-tengah pertunjukkan dengan kata-kata nujum: “Gue sudah mati sejak lama.”

Saya merajut kenangan tersebut dari sejumlah rekaman cerita dan peristiwa tentang Jimi Hendrix yang telah tersiar dalam ensiklopedia On This Day: The History of the World in 366 Days (2004), Historica: 1000 Years of Our Lives and Times (2006), dan majalah berita mingguan TEMPO (3-9 Mei 2010).

Waktu menambal-sulam kenangan tersebut, pada titik tertentu, saya menjedainya dengan membaca buku Soeharto di Bawah Militerisme Jepang karya David Jenkins, wartawan kawakan Australia, yang baru saja (November 2010) diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu, Jakarta. Ini buku kedua Jenkins. Buku pertamanya yang juga disiarkan dalam bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu adalah Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1983 (April 2010).

Kedua buku itu—juga beberapa buku sejarah lainnya yang sudah saya baca jauh sebelumnya, antara lain karangan Asvi Warman Adam, Bung Karno Dibunuh Tiga Kali? (2010), John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (2008), dan Robert Edward Elson, Suharto: Sebuah Biografi Politik (2005)—mengentalkan pengetahuan saya bahwa Soeharto adalah penguasa Orde Baru dan Jenderal Besar Rezim Militer itu. Ia berkuasa memegang tongkat komando-kekuasaan di negeri ini selama 32 tahun setelah mendepak Soekarno dari singgasana kekuasaan Orde Lama dengan dua cara. Pertama, “cara halus”—yaitu “meminta” Surat Perintah Sebelas Maret pada 1966 dari Bung Karno yang memungkinkannya mengendalikan ketertiban sosial politik. Kedua, “cara kasar” berupa pembunuhan massal aktivis dan pengikut Partai Komunis Indonesia sepanjang akhir 1960-an yang dianggapnya berbahaya sebagai “biang kerok” Gerakan 30 September 1965 yang telah merampas nyawa enam jenderal dan satu perwira Angkatan Darat dan berkehendak makar terhadap Pemimpin Besar Revolusi Soekarno.

Selama tiga dasawarsa lebih sedikit kekuasaan rezim Orde Baru, anggapan tersebut menjelma “kebenaran sejarah” yang—pinjam judul novel Jonathan Safran Foer (2010)—benar-benar nyaring dan sungguh-sungguh dekat (extremely loud and incredibly close) di benak penduduk negeri ini—apalagi setelah rezim ini merilis film propaganda bertajuk Pengkhianatan G30S/PKI besutan sutradara Arifin C. Noer pada 1984.

Dengan propaganda visual itu, teror jiwa mengerut daya kritis menjadi serpihan-serpihan ketakberdayaan yang gampang tersapu lupa. Maka kita pun seperti tak acuh bahwa pada saat Jimi Hendrix menghembuskan nafas terakhir, di Desa Sentul, Blitar, Jawa Timur, jasad Bung Karno “baru” 89 hari dikebumikan di pekuburan umum, seperti dikemukakan sejarawan Asvi Warman Adam (2010), tanpa persetujuan keluarga, demi pertimbangan keamanan menjelang Pemilu 1971, dan—ini yang memilukan—tanpa hak dan fasilitas sebagai seorang manta kepala negara, kecuali sambutan sangat singkat dalam upacara pemakaman yang dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal Pangabean pada sore hari, 22 Juni 1970.

Presiden pertama Republik Indonesia itu lengser secara mengenaskan sebagai pesakitan politik dalam tahanan rumah yang mengelucak jiwa-raganya hingga malaikat maut menjemputnya di RSPAD Gatot Soebroto pada 20 Juni 1970. Setelah itu, selama masa pemerintahan Rezim Soeharto, pintu tertutup bagi segala upaya mengenang Sang Penyambung Lidah Rakyat itu. Di negerinya ia tak dihormati—kecuali sebagai Sang Proklamator yang peran dan jasanya telah tenggelam dalam hiruk-pikuk Rencana Pembangunan Lima Tahun Orde Baru.

Vice versa Jimi Hendrix. Dalam edisi 3-9 Mei 2010, majalah berita mingguan TEMPO menurunkan “Intermezo” sepanjang 8 halaman tentang “Hendrix Setelah 40 tahun …”—dengan kalimat-kalimat pembuka seperti ini:

“Empat dasawarsa setelah kematiannya di usia 28 tahun [seharusnya 27 tahun atawa menjelang 28 tahun—pen.], Jimi Hendrix masih saja memancarkan daya tarik. Album baru [judulnya Valleys of Neptune, diliris oleh Hendrix Experience dan Legacy Recordings, salah satu divisi Sony Music Entertainment, pada Maret 2010—pen.] yang menghimpun selusin unreleased materials yang dia rekam pada hari-hari akhir hidupnya masuk daftar album terlaris. Berbagai majalah pun menjadikannya sebagai cerita sampul, seolah pembicaraan mengenai kariernya yang menakjubkan dan kehidupannya yang gemerlap tapi singkat belum juga habis. Pantaskah dia mendapatkan semua perayaan itu?”

Kalau pertanyaan itu diajukan secara khusus kepada Nyoman Mantra, saya yakin, dia akan menjawab: Pantas! Buktinya: bukan hanya karena terkesan sangat, tapi karena pada sosok Hendrix ia menemukan apa yang disebut Sugi Lanus dalam katalog pameran ini “representasi figuratif” manusia urban yang memungkinkannya menjelmakan pengetahuan tradisional—yaitu Yoga, di atas kanvas.

Dengan cara berpikir yang disebutnya “organic mind”—Mantra bermaksud bijak: mempertemukan yang-Urban dan yang-Tradisional secara harmonis, seperti mengaitkan angka enam-sembilan (69), yang tersurat dalam judul keenam lembar kanvas yang menggurat profil Hendrix—dengan rambut kribo, sorot mata tajam, dan tulang pipi menonjol—bak dunia khayali, di mana aneka warna daun hayati tumbuh dan gugur dari pohon kearifan yang telah menyadari sepenuhnya bahwa—seperti kata Hendrix dalam kutipan di atas—pengetahuan berbicara, kebijaksanaan mendengar; bahwa “kematian adalah saat kau tidak lagi diklasifikasikan sebagai manusia. Tubuhmu hanyalah kendaraan fisik yang akan membawamu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa menemui banyak masalah,” begitu ujar Hendrix suatu saat di puncak-puncak kariernya.

Dengan begitu—dengan sabur-limbur pemahaman di atas—kita sangat mungkin meresepsi enam lembar kanvas Mantra bertajuk “If Six was Nine” itu sebagai semacam ilustrasi pemikirannya yang merupakan Jimi Hendrix sebagai “Malaikat Perbandingan” yang membawa cermin kehidupan di mana Mantra dapat menyintai kebijaksanaan secara ekspresif tentang manusia, binatang, dan tetumbuhan sesuai dengan pedoman nalar organiknya—nalar pemufakatan terhadap dirinya sendiri yang berkehendak “mendamaikan” Timur dan Barat dengan kearifan tradisional dan keluhuran urban di selembar kanvas.

Bisa kita bayangkan betapa itu […] seperti permintaan maaf Hendrix sementara ia mengambung langit sebagai apa yang terasa—bukan sebagai yang terlihat—dalam khayal insani yang telah insaf apa arti kehidupan dan kematian di antara jerit dan keringat: gemuruh penonton yang menyimak petikan gitar Fender Stratocasternya yang melantunkan—pinjam kata-kata Harry Shapiro dan Caesar Glebbeek via TEMPO (3-9 Mei 2010)—“bunyi kotor, kasar, metal, dan tajam.”

Pada enam lembar kanvas Mantra yang menggurat sosok Jimi Hendrix itu, saya sangat berharap bisa mendengar dan merasakan “bunyi” itu—dan bukan sekadar memikirkan dan menyakapkannya—di sepanjang waktu perhelatan ini.

Yogyakarta, 18 Desember 2010

—Wahyudin, Kurator Seni Rupa

Leave a Reply